BUMDes Jadi Garda Terdepan: Pelatihan Ketahanan Pangan Berbasis Lokal Digelar Untuk Wujudkan Swasembada di Konawe

Kendari, Sultraupdate. Id– Upaya mewujudkan kemandirian pangan di Konawe Utara semakin nyata. Selama tiga hari, sejak 29 hingga 31 Agustus 2025, ratusan peserta dari berbagai desa di Kabupaten Konawe Utara mengikuti kegiatan bertajuk “Pelatihan Ketahanan Pangan Berbasis Lokal dalam Mendukung Swasembada Pangan dan Penguatan Kelembagaan BUMDes” yang digelar di Hotel Zame, Kendari.

Kegiatan di inisiasi oleh Lembaga Kajian Indonesia Kementerian Dalam Negeri  dibiayai melalui alokasi 20% dana Desa untuk ketahanan pangan yang telah tertuang dalam APBD setiap desa. Peserta berasal dari pemerintah Desa serta pengelola BUMDes.

Tujuan dari pelatihan ini bukan hanya untuk meningkatkan ketersediaan dan akses pangan di desa, tetapi juga untuk memperkuat peran desa dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis pangan.

Wakil Bupati Konawe Utara, H. Abuhaera, S.Sos., M.Si, menyampaikan bahwa tantangan pangan saat ini semakin kompleks. Namun, ia optimistis Konawe Utara memiliki potensi besar untuk mandiri.

“Tantangan pangan saat ini semakin kompleks, baik dari sisi ketersediaan, distribusi maupun kualitas gizi. Namun demikian, Konawe Utara memiliki potensi yang sangat besar. Dengan lahan pertanian, hasil perikanan dan perkebunan yang melimpah, kita sejatinya mampu berdiri tegak dalam mewujudkan kemandirian pangan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Perubahan APBD 2025 Konawe Utara Disahkan, Fokus Bangun Kesejahteraan Masyarakat

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi lokal agar hasil bumi memiliki nilai tambah, tahan lama, dan bergizi.

“Melalui pemanfaatan teknologi pangan berbasis lokal, hasil bumi kita dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai, tahan lama dan bergizi, sehingga mampu mendukung kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menunjang keberhasilan program nasional,” tambahnya.

Abuhaera juga menyoroti peran penting BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa yang harus diperkuat.

“BUMDes bukan hanya menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga wadah bagi masyarakat desa untuk berinovasi, berproduksi, dan mengelola potensi desa secara mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat harus disambut baik oleh desa-desa, dengan memperkuat empat aspek utama:

1. Ketersediaan bahan pangan lokal yang cukup dan beragam.

BACA JUGA :  Atlet Asal Jabar Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia

2. Kemampuan pengelolaan pangan dengan teknologi sederhana hingga menengah.

3. Peran aktif BUMDes dalam rantai pasok pangan.

4. Sinergi antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat.

Melalui pelatihan ini, pemerintah daerah berharap peserta dapat memperoleh keterampilan baru dalam pengelolaan pangan berbasis lokal, Menerapkan ilmu yang diperoleh di desa masing-masing, Mengembangkan produk-produk unggulan desa, Memperkuat kelembagaan BUMDes sebagai pusat ekonomi desa yang berdaya saing.

“Kami berharap semua peserta untuk mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh, penuh semangat, dan menjadikan momentum ini sebagai awal kebangkitan desa-desa di Konawe Utara menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Abuhaera.

Menutup sambutannya, ia juga mengingatkan agar legalitas BUMDes segera diselesaikan dan mendorong kolaborasi, bukan persaingan, antara BUMDes dan koperasi desa.

“BUMDes yang belum berbadan hukum supaya dipercepat dan BUMDes diharapkan dapat bekerja sama dengan koperasi desa. Jangan ada persaingan, jangan hanya pelatihan hasilnya tidak ada,” tegasnya.

Komentar